Naik Kereta Api di Perancis
Buat sebagian orang yang tinggal di pulau Jawa dan Sumatera, naik kereta api barangkali bukanlah sesuatu yang asing. Kebayang gak sih… ada banyak orang (terutama) di Kalimantan, Sulawesi, Papua yang belum tau bagaimana rasanya naik kereta api bahkan mungkin belum pernah melihat bagaimana bentuk kereta api. Aku ingat seorang teman, yang lahir dan besar (termasuk kuliah) di Sulawesi Selatan, berkata : “Nuning, aku udah sering naik bis, pernah naik pesawat terbang, juga kapal laut tapi belum pernah naik kereta api”. Tentunya sekarang teman itu sudah sering naik kereta api karena dia kemudian bekerja di pulau Jawa (dan beristri orang Jawa) dan sudah bisa menyanyikan lagu sembari merasakannya “ naik kereta api.. tut.. tut..tut…. siapa hendak turut…”.
Meski kuliah di Bandung dan ortu di Jakarta (di lagu anak-anak itu… “ke Bandung… Surabaya” adalah tujuan naik kereta, yang “bolehlah naik dengan percuma”), aku jarang naik kereta. Bukan apa-apa, cuman sekedar pertimbangan ekonomi belaka karena naik bis lebih murah dibandingkan naik kereta api Parahyangan, waktu itu. Tentu saja ada cerita tentang teman yang naik ke loko bareng masinis biar gratis, dll. Tapi aku gak pernah loh (sampai sekarang) naik kereta gratisan ataupun naik ke loko (enggak boleh sih ama pacarku waktu itu). Siapa sangka bahwa tiket kereta api saat ini hampir sama harganya dengan tiket pesawat terbang. Siapa sangka kemudian aku berumah di selatan Jakarta (bukan Jakarta Selatan) dan menjadi bagian dari masyarakat pinggiran kota, berangkat-pulang kerja menggunakan kereta. Selama sekitar 4 tahun aku menjadi anggota rokers – singkatan dari ‘rombongan kereta sudimara’, dari tahun 1997 sampe 2000. Sudimara adalah nama stasiun kecil, ada di jalur barat kereta Jakarta : Serpong – Sudimara – Pondok Ranji – Kebayoran Lama – Pal Merah – Tanah Abang. Kereta ini enggak ada ‘api’nya, tentu, karena merupakan kereta listrik (KRL) dan kereta disel (KRD). Berangkat kerja naik di Sudimara turun di Tanah Abang, dan sebaliknya. Siapa sangka pula aku berkesempatan naik kereta di manca negara ??
Sama-sama naik kereta di kota-kota besar dunia : Paris, London, Kobe-Osaka dan Jakarta ada persamaannya dan perbedaannya. Yang jelas beda adalah yang satu (Jakarta) kereta melaju di atas tanah dengan pemandangan kombinasi antara gedung tinggi dan perkampungan kumuh sedangkan yang di kota lainnya jalur kereta berada di bawah tanah dengan pemadangan terowongan-terowongan berikut iklan-iklan dan papan penunjuk arah. Enggak ada yang jualan, nawarin mangga, pernik2 asesoris, korek api, minuman, dll di dalam Metro Paris maupun Subway London ataupun Hangkyu di Kobe-Osaka, tapi sama2 ada pengamennya. Sama sama bersih (katanya sekarang kereta Sudimara itu udah pake gerbong bekas, hibah dari Jepang : bagus, bersih), sama sama penuh sesak kalo pas lagi jam sibuk.. Perbedaan paling mencolok adalah dalam hal ketepatan waktu. Gile... kereta kota Paris, London, Kobe-Osaka itu ...... waktunya bisa pas banget, bahkan dalam hitungan detik. Kalo ketinggalan juga gak perlu kuatir.... masih ada kereta yang akan lewat ! Kalo kereta Sudimara-Tanah Abang itu kan telat 30 menit belum dianggap telat karena itu pihak stasiun gak merasa perlu memberi penjelasan apapun pada para penumpangnya trus kalo ketinggalan jangan mengharap sebentar lagi ada kereta yang lewat. Judulnya... kaciaaannn deh lo !!
Sewaktu di Paris aku sempet juga kita liat ada rel yang cuman satu jalur (ternyata itu jalurnya RER, jalur ke luar kota, bukan Metro), kita agak lama nungguin kereta di situ, mau masuk lagi ke stasiun Metro, trus seorang kawan yang kebetulan sesama ‘rokers’ nyeletuk.... wah.. barangkali ini harus nunggu silang ! Aku langsung ketawa, ingat kereta Sudimara yang sering telat itu karena harus tunggu silang (maksudnya menunggu persilangan dengan kereta lainnya, karena jalurnya cuman satu).
Soal keamanan, katanya di Metro juga banyak copet, sama aja ma kereta Sudimara-Tanahabang (untungnya aku belum pernah ketemu, mudah2an gak pernah ketemu) tapi kereta Hangkyu sangat aman. Pernah loh aku ketinggalan payung, suamiku menyarankan agar besok aku ke gerbong itu lagi pada jam yang sama, eh… bener… payungku masih ada di sana. Kebayang aja kalo kejadian yang sama di kereta Sudimara-Tanahabang.
Yang paling terasa beda adalah soal kedisiplinan para penumpang dalam membayar tiket. Pernah menyaksikan sendiri atau melihat foto di surat kabar nasional ataupun di teve dimana tampak penumpang berjubel bukan cuma di gerbong tapi juga di atas gerbong ??!! Mengerikan, tapi kok ya si penumpang itu gak pada takut sih ?? Mereka memilih membahayakan diri sendiri ketimbang membayar ongkos tiket yang (sebetulnya) enggak seberapa itu. Memang sih mereka beralasan bahwa di dalam gerbong penuh sesak, gak ada kereta lagi sementara mereka harus sampai di kantor/tempat kerja/tempat jualan pada jam tertentu. Artinya ada juga kesalahan pemerintah dalan hal ini…. tidak mampu memberikan angkutan yang murah dan dapat diandalkan. Di dalam gerbongpun beberapa penumpang gak bayar ataupun cincai2 ama sang kondektur alias cuman bayar separoh porsi. Nah, dalam kasus ini yang salah bukan pemerintah tapi si penumpang dan juga si oknum kondektur. Satu lagi yang beda juga adalah pemerintah / perusahaan kereta api di Jepang, Inggris maupun Perancis itu gak pernah kedengeran mengeluh rugi terus seperti Perum KA kita. Tentunya enggak sebanding ya… membandingkan kereta di negara maju dengan di negara berkembang seperti Indonesia. Tapi, seperti udah diceritain, kan tetep ada samanya. Mestinya dalam soal membayar tiket bisa sama dong, kalo kita mau !! Ini masalah mental aja, kayaknya !
Denger-denger di Jakarta akan dibangun jalur kereta api bawah tanah dan monorel. Aku membayangkan betapa asyiknya bisa naik kereta ke kantor (lagi) maupun ke mal/pasar, ke sekolah (anak-anak), ke rumah sodara, ke kebun binatang dan ke tempat rekreasi lainnya. Kereta rakyat yang murah, bersih, aman, cepat. Kapan ya ?? Terbayang juga gimana kereta bawah tanah itu kalo pas Jakarta lagi dilanda banjir. Gimana kalo kereta itu dipenuhi penumpang sampai pintunya gak bisa menutup dan penumpang naik ke atas gerbongnya. Bagaimana kalo para pengemis, tuna wisma, pedagang kaki lima, pencopet, pedagang asongan, dan kawan-kawannya itu memenuhi terowongan bawah tanah ? Gimana kalo tiba-tiba listriknya padam seperti yang (kadangkala) terjadi pada KRL sekarang ini ?? [Nuning].
Menarik sekali tulisan-tulisannya Mas Yusuf Iskandar tentang makanan, jadi ingat tulisan-tulisan kulinernya Bondan Winarno. Apa mas Jusuf ini juga salah satu mata-mata “jalansutra” ??. Coba kita lihat lagi : Bakminya Mbah “Mo”, Ikan Bakar Lumintu 101, Pecel lele Sabar Menanti, Udangnya Mang Engking dan pagi tadi “Kambing Muda Pasar Paing”, semuanya adalah makanan atau jajanan di sekitar Joyga – Solo, padahal katanya beliau tinggal (dan kerja ?) di Tembagapura, Papua. Kapan nih Mas Yusuf cerita-cerita tentang makanan enak di Papua ? Barangkali aja tentang ikan bakar di dekat lapangan terbang Sorong itu atau jangan-jangan memang enggak ada makanan enak di Papua ? Membayangkan makanan yang diceritain Mas Yusuf ini membuat saya hampir meneteskan air liur… wuihhh… kayaknya sedap banget ! Saya juga sepaham dengan beliau bahwa makan itu enak dan perlu, cuma saja, sebelum ini, saya tidak pernah terpikir untuk menuliskannya.
Saya jadi terkenang makanan favorit di masa kecil/remaja. Di daerah Rawamangun Jakarta ada Restoran / Rumah Makan “Sederhana”, masakan Padang, yang sekarang franchise-nya ada dimana-mana. Dulu, tahun 70-an itu Restoran (dulu dibilangnya cuma Rumah Makan) Sederhana cuma berupa warung kecil, letaknya di perempatan jalan Sunan Giri – Ramamangun Muka (dulu di depan bioskop Mega - bioskop itu udah almarhum, tak sanggup bersaing dengan jaringan bioskop 21), di depan pasar/ruko Sunan Giri. Sampai sekarang lokasinya ya tetap di sana tapi udah gak berupa warung lagi melainkan restoran besar, lengkap dengan ruangan berpendingin. Dulu itu paling seneng kalo ibuku menyuruh beli rendang ke Rumah Makan Sederhana karena rendangnya enak betul… empuk dan bumbunya meresap … pedas dan gurih .… hhmmm… sedap sekali ! Sayangnya kami jarang sekali makan langsung di restoran, maklum, ortu terlalu banyak pertimbangan ekonomisnya (sampai sekarang ibu saya itu susah sekali diajak jajan, sudahlah… makan di rumah aja.. kan ada banyak makanan…. begitu selalu alasannya). Dulu, kalo diutus beli rendang, ibu selalu berpesan…. minta bumbunya yang banyak, ya … ! Jadi sampai di rumah, rendang itu dibagi dua dulu (iya betul…. dibagi dua !) plus kuah atau bumbu yang agak banyak dicampur nasi panas. Asyiklah kami serumah makan nasi rendang.
Jaman dulu itu, setau saya, yang namanya masakan Padang itu ya cuma rendang saja karena gak pernah nyobain yang lain. Setelah mahasiswa barulah saya sering makan di restoran atau rumah makan Padang dan bisa puas makan sepotong rendang tanpa dibagi dua dan mencoba berbagai masakan padang yang lain semisal gulai otak ataupun gulai tunjang atau dendeng betako dan yang lainnya. Mau tau restoran padang favorit saya semasa mahasiswa di Bandung ? Itu loh Rumah Makan “Tanpa Nama” di jalan Singaperbangsa (saya lupa lagi nama daerahnya apa, di depan Unpad - Dipati Ukur) dan sekarang udah tergusur. Sekarang ini, rumah kami di Pamulang, langganan kami (saya, suami, anak-anak) adalah restoran Sederhana di perempatan Gaplek, yaitu perempatan antara jalan ke Pondok Cabe – Parung – Pamulang – Ciputat. Rendangnya masih enak, sama enaknya dengan di masa saya kecil. Katanya restoran ini memang franchise-nya yang di Rawamangun itu. Tentu saja sekarang saya lebih suka makan “in situ” dan enggak cuman makan rendang. Anak saya yang kecil, karena belum tahan pedas, memilih ayam pop – menu yang tidak saya kenal di waktu kecil. Saya pernah iseng tanya, kenapa Sederhana mencantumkan keduanya : Restoran dan Rumah Makan, jawabannya : restoran itu terkesan mahal sedangkan rumah makan itu murah, jadi dibuatlah keduanya supaya orang-orang yang uangnya sedikit tidak ragu-ragu untuk makan di tempat kami. Wah, ternyata itu taktik dagang juga. Nama “masakan padang” ini pun juga cuman taktik dagang karena bisa jadi masakan itu bukan dari kota Padang tapi dari kota/daerah kota lain di Sumatera Barat seperti Pariaman, Bukit Tinggi, dll.
Suami saya besar di Jakarta Selatan, juga mempunyai makanan favorit semasa kecil/remaja yaitu ayam goreng “ mbok Berkah” di Mayestik, sate ayam di Jalan Sambas dan bakmi “Boy”. Uniknya sampai saat ini kami sekeluarga masih bisa menikmati ketiga makanan favorit suami saya (sejak kecil) itu. Makanan favorit suami saya kini juga merupakan favorit saya dan anak-anak. Suami saya pernah cerita bagaimana dia, bila menemani (almarhummah) ibunya berbelanja ke Pasar Mayestik, pasti mampir ke Bakmi Boy dan apabila naik kelas atau dapat raport dengan nilai bagus maka ‘hadiah’nya antara lain makan di sate ayam jalan Sambas atau di ayam goreng “mbok Berkah”. Tentu saja sekarang ini anak-anak saya gak perlu menungu dapat raport bagus untuk sekedar makan di restoran. Sepertinya, acara makan di luar rumah itu sudah merupakan kegiatan yang biasa saja, bukan sesuatu yang istimewa seperti jaman kita kecil dulu.
Ketiga tempat makan favorit keluarga saya itu tidak atau belum menerapkan sistem franchise, masih menggunakan sistem kekeluargaan artinya pengelolaan hanya diserahkan dari bapak ke anak dan ke cucunya. Kami, terutama suami saya, merasakan dilayani oleh sang ayah, anak-anaknya, sekarang bahkan cucunya juga sudah mulai melayani kami. Ada 3 cabang Bakmi Boy, yaitu di Pasar Mayestik (dulu, katanya lokasinya bukan di situ tapi masih di Mayestik juga), di pasar Blok M dan di Pasar Santa, ketiganya dipegang oleh anak-anak dari sang pendiri. Jaman pacaran dulu, saat makan bakmi Boy di Blok M, kami dilayani oleh sang anak (yang namanya dijadikan nama rumah makan itu : Boy), sekarang kami dilayani oleh sang cucu. Sate Ayam di Jalan Sambas maupun Ayam “mbok Berkah” di Mayestik (lokasinya pinggir jalan dekat smp 56 yang bermasalah itu) sejak dulu sampai sekarang hanya rumah makan “kaki lima” dengan tenda dan meja-kursi sederhana, hanya buka di sore dan malam hari dan enggak punya cabang. Sama dengan Bakmi Boy, dulu sang pendiri, Pak Rachmat, yang sibuk melayani pembeli Ayam Goreng “mbok Berkah”, sekarang manajemen dikelola oleh anak-anaknya.
Ada rentang waktu yang cukup panjang, lebih 30 tahun, dan mereka tetap “survive”, tetap punya pelanggan, lama dan baru. Rasa dari masakan juga tidak berubah. Itulah yang menyebabkan kami selalu datang dan datang lagi. Beruntunglah kami, masih bisa merasakan makanan favorit sejak kecil : rumah makan Sederhana, Bakmi Boy, Sate Ayam jalan Sambas dan Ayam Goreng “mbok Berkah” di Mayestik. Tentu saja sekarang kami juga punya makanan favorit lain, langganan lain, tapi tetap saja kami selalu kembali ke sana. Boleh loh… dicoba makanan favorit keluarga kami itu, barangkali aja sesuai dengan selera, sama seperti keluarga kami.
Jakarta, 26 Juli 2004
Salam,
Nuning.
